loading...

Selasa, 29 April 2014

Kurang Gaji atau Kurang Hemat?

Aku Dan Pemulung


Siang ini udara serasa panas. Mentari bersinar terang menyilaukan mata yang melihatnya. Langit bersih, hamper tak ada awan menyelimuti. Debu di pinggiran jalan beraspal juga sudah mulai beterbangan. Ini akhir April, memang sudah dalam musim peralihan dari musim hujan ke kemarau, jadi wajar saja kalau dunia mulai panas. Walau begitu, jika di banding tahun-tahun sebelumnya, memang tahun ini jauh lebih panas. Mungkin ini efek dari global warming yang banyak dibicarakan orang.
Aku Giyo, seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta di Denpasar. Aku baru bekerja enam bulan. Gajiku sudah masuk nominal ‘jutaan’, lumayanlah untuk orang kampung yang jarang pegang uang jutaan. Enam bulan aku bekerja, aku masih belum tau statusku di perusahaan, masih dianggap training  atau sudah karyawan tetap. Awal interview kesepakatan tiga bulan masa training lalu melihat kinerja untuk kontrak selanjutnya, namun sama sekali tak ada tindak lanjut atas hal itu. Aku sendiri juga malas memperhitungkan hal tersebut. Sudahlah, tak terlalu penting, jika memang tak respect apa mau dikata, yang penting penting aku masih sanggup hidup walau harus super hemat.
Hari ini job sepi. Tak tau coustumer pada kemana. Aku nikmati waktuku dengan browsing internet serta mengobrak-abrik akun facebookku. Ya. . . sekedar iseng gangguin teman-teman dunia mayaku. Dalam ruangan berAC, aku duduk membaca baris demi baris kiriman teman-temanku di facebook. Sempat iseng juga melakukan search facebook  mantan, sekedar ingin tau kabarnya, namun tak banyak kiriman yang ku jumpai. Mungkin memang sedang off atau memang aku tak ada ijin untuk melihat pembaruan kirimannya.
Sekitar satu jam aku duduk, sudah terasa membosankan. Mendengar ramai kicau anak magang juga tak membuatku ikut larut dalam keceriaan mereka. Kuputuskan untuk keluar sejenak, sekedar melihat kendaraan yang lalu lalang di jalanan serta menjauh dari udara yang lekat dengan bau tinta mesin printing yang setiap harinya ku hirup. Aku sedikit berjalan keluar area tempat kerjaku, bising deru kendaraan bermotor merangsek ke telingaku. Mataku juga dibuat kesal oleh debu-debu yang beterbangan mengotori mataku.
Aku berjalan lebih jauh menuju areal belakang, tempatku dan orang-orang sekitar menitipkan sampah-sampah untuk nantinya diangkut oleh petugas kebersihan. Di sana Aku bertemu seorang lelaki kurus namun bertubuh cukup kekar sedang mengais-ngais tempat dimana sampah dikumpulkan. Penampilannya lusuh, terlihat kotor dengan pakaian yang seperti jarang dicuci. Dengan sebuah tongkat bamboo yang di ujungnya disambung dengan sebuah besi berkait, ia memindahkan sampah-sampah plastik ke gerobaknya.
Aku mencoba menghampirinya, mencoba ramah bertegur sapa, namun masih menjaga jarak. “pak, cari rongsokan pak ya??”. Ku lihat dia sedikit kaget, lalu memandang ke arahku. Dengan senyuman kecil dia menjawab pertanyaanku,”ia mas”, sambil melanjutkan pekerjaannya. Aku merasa sedikit mengganggu, namun entah apa yang aku pikirkan, aku masih ingin bertanya banyak pada pemulung itu. “kertas-kertas bekas diambil juga pak? Aku ada di dalam banyak, mau aku ambilkan?”, tanyaku padanya lagi. “boleh mas, kalo ada vinyl bekas juga saya ambil mas” jawabnya masih dengan senyum kecilnya yang ramah. “sebentar ya pak saya ambilin dulu”, jawabku sembari berjalan mengambil kertas bekas plastik laminasi dan vinyl-vinyl bekas yang tak terpakai. Setelah kuambil semua, aku segera kembali ke belakang untuk menyerahkannya kepada pemulung. “ini Pak”, kataku sambil memberikan apa yang kubawa. Ia menggantungkan tongkat berkaitnya ke gerobak lalu dengan sigap mengambil vinyl serta kertas-kertas yang ku bawa dengan kedua tangannya. “makasi yam as, banyak nih”. “Ia Pak, sama-sama. Ngomong-ngomong pak asalnya dari mana? Asli daerah sini?”. “saya dari Jawa mas, tapi udah lama tinggal di Bali sama istri dan anak-anak” jawabnya sambil menata ulang  barang-barang bekas di gerobaknya. “owh, kerjaan sehari-hari cuma cari barang bekas aja pak? Terus istri dan anak-anak gimana?” aku mulai bertanya tentang kehidupannya. Ia berhenti sejenak. Berdiri tegap lalu memandang ke arahku. “ia mas, istri ngurus rumah aja, paginya jualan nasi bungkus, kalo sempat juga ikut cari rongsokan mas. Anak yang pertama sekolah SMP, yang kedua paling kecil baru SD kelas 4”.
Mendengar jawabannya, aku berpikir tentang berapa pendapatannya, apakah sampai ‘jutaan’???. Aku sedikit malu bertanya itu, takut membuatnya tersinggung, tapi penasaranku tak mau diajak diam. “wah, hebat. Emang biasanya dapat berapa jualan pak?? Bisa cukup buat anak sekolah”. Pemulung itu kembali tersenyum. Sambil kembali mengais sampah dia menjawab pertanyaanku dengan rendah hati. “ya cukupin sajalah mas, yang penting udah makan, anak-anak juga sudah ngerti jadi gak terlalu boros dan kadang mereka juga bantu. Jualannya gak tentu mas, kadang kalo dapat banyak sehari bisa seratus tapi kadang juga gak dapat mas, nunggu dua atau tiga hari ngumpulin baru bisa jual”. Mendengar jawabannya aku kembali menimbulkan Tanya dalam benakku,”kalau gak dapat jualan uangnya dari mana pak???”. “ya dari uang kemarin-kemarin, kalo abis banget saya minjem sama tetangga mas”. Mendengar jawabannya aku diam,“Wah, sama saja denganku, gak ada uang kasbon dikantor” Pikirku.
Aku memandangi langkah kakinya yang hanya mengenakan sandal jepit bekas yang berbeda jenis untuk kanan kirinya. Kakinya tak peduli betapa menjijikan sampah yang diinjaknya. Kulihat juga tangannya begitu berani mengambil satu demi satu botol plastik dan barang-barang bekas yang  bisa ia jual. “mas kerja di sini??”, tanyanya mengagetkanku. “oh.. iya mas,, ya kerja buat idup ajalah mas, sama juga biar cukup buat makan”. “ya mas syukurin aja, udah bagus kerja gak panes-panesan, gak kotor mas”. “ia sih mas” jawabku singkat tanpa bisa berpikir banyak. Mendengar kata-katanya membuatku berpikir lebih jauh membandingkan pekerjaanku dengan pekerjaannya. “aku bekerja dengan gaji bulanan merasa kurang dan bahkan memang kekurangan, tapi dia bisa hidup membiayai sekolah dua anakanya serta menanggung satu orang istri. Apa penghasilannya lebih besar dariku? Atau aku yang terlalu boros?” tanyaku dalam hati.
“kak Giyo . . . ada yang mau cetak”, terdengar suara  memanggilku. Aku berbalik, ternyata anak magang yang sedang menjalani masa training. “iya sebentar, terima saja filenya”, jawabku. “sudah dulu mas ya, semoga dapat banyak hari ini”, kataku pada pemulung. “oh iya mas, terimakasih yam as”. “iya sama-sama”. Aku melangkahkan kakiku bersiap kembali bekerja. Dengan sedikit tersenyum kecil aku menyapa coustumerku. “Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?”.
***
Sepulang kerja aku kembali terpikir pemulung yang ku temui tadi siang. “bagaimana rumahnya? Apakah bagus? Kehidupannya seperti apa?? Apa mungkin penghasilannya besar seperti para pengemis yang katanya pendapatannya melebihi para pegawai negeri golongan atas??? Dia bebas bekerja, tak terikat, tak ada bos, tak  jam kerja pagi. Dia bekerja untuk dirinya sendiri, tapi pekerjaan mereka kasar, kotor. Apa aku bisa menjadi sehebat mereka.??” Tanyaku dalam hati. Aku berangan-angan bisa membuka usaha sendiri, walau kecil tapi cukup untuk hidup sederhana bersama istri dan anak-anakku kelak.

Writer : Made Yogi Astra
Date : April, 29th 2014, 21:45 WITA (end no editing)

Kamis, 24 April 2014

KONYOL PAKE "Y" BUKAN "T"

“Siapa Loe ?”


Gue Giyo, anak alay gitu deh. Gue lagi galau nieh,, biasa habis patah hati. Seminggu yang  lalu Gue ketemu sama mantan Gue di jalan, Gileeee….. sekarang dia cakep banget. Ngeselinnya ya, Gue ketemu sama dia pas dia gandengan sama cowonya. Uhhh… panas nie dada brow,,,,,. Dengan besar hati nieh Gue coba nyapa Dita (mantan Gue namanya Dita cuy,,, cakeppp deh pokoknya). “hello Dita, gimana kabar nieh,,, itu siapa ?? pacar barumu yah,,, makin cakep aja kamu Dit…”, sambil Gue nyengir-nyengir malu gitu.
                Waduuhhh…. Cowonya mulai pasang muka kesel sama Gue. Gue nunduk-nunduk malu banget. Sumpah… nyesel banget Gue nyapa. Tapi Gue intip-intip si Dita senyum ke Gue, jadi Gue berani lagi memperlihatkan ketampanan Gue. (hahahaha,,, tampan ala justin bieber copyan ke 999999999). Dita nyamperin Gue men…. “banyak nanya loe!!! EMANG SIAPA LOE, penting gak buat Gue!!! LOE UDAH MATI DI KEHIDUPAN GUE, GAK USAH GANGGU GUE PAKE SOK AKRAB GITU!!!”.
                Astajimm…. Sumpah deh,,, Gue bener-bener gak punya muka. Gak berani Gue noleh. Serius,, Gue pengen nyemplung ke sumur aja. Uhhhh…. Mampus Gue!!! Abis ngedamprat dia jalan lewat di depan Gue gitu aja pake gandengan meluk-meluk pinggang cowonya. Hancur men hancurrrr….
                Serius, waktu itu Gue malu bangeeetttt,, pengen Gue bejek-bejek muka dua orang itu. Kesal, malu, marah,,, uhhh,,,, pengen Gue balas dendam sama mereka. Eh, kebetulan 2 hari lalu Gue ketemu lagi sama Dita di gang deket rumah. Tapi kali ini dia sendiri, gak ngajak cowonya. Dengan muka teroris Gue jalan aja, sok-sok'an Gue gak peduli sama Dita. Pas papasan Gue pasang muka seseram mungkin. Deb deb deb,,,, jantung Gue deg degan. Ssssshhhhh… Tap…. Langkah kaki kita udah bertemu. Gue masih dengan muka teroris memelankan langkah, kayak slow motion di film-film deh. Deb deb deg… “Hai, mau kemana?”, Dita nyapa Gue. Whatsssss….. gak salah??? Tapi Gue masih pake muka serius. Otak Gue mikir cepat layaknya processor core i7. “aha, kenapa Gue gak balas dendam aja, Gue balikin kata-kata loe”, pikir Gue. Gue hentikan langkah kaki Gue, lalu memandangnya dengan wajah seram. “Ah SIAPA YA? EMANG KITA KENAL YA? SIAPA SIH LOE NAYAPA GUE SOK KENAL GITU???”. Wishhh,,, Gue pikir Gue dah keren banget tuh. walau masih deg degan gitu. Gue lihat wajahnya kayak keheranan, Kata Gue dalam hati, “emang enak Gue balas!!?”. Eh tiba-tiba dia dengan slow motion jawab santai banget,”Eh ia ya, LOE SIAPA YA, SORRY SALAH, GUE KIRA LOE GORILA YANG GUE AJAK KENALAN DI KEBUN BINATANG KEMAREN. Oh YA GUE PACARNYA ALDI (Aldi nama pacar baru Dita). Sekali lagi SORRY BANGET YA, abis LOE MIRIP SAMA GORILA KEMARIN”.
                Waduh, men,,, mampus Gue mampus, gak bias ngomong Gue men,,, . Abis dia ngomong dia jalan lewat gitu aja. Serius Gue gak punya muka lagi. Kalo bias Gue gak pengen lagi ketemu mantan Gue yang itu. Gue sampe merenung berhari-hari men,, inget sama kata-kata dia semua, uh,,, serius Gue pengen mati gantung diri. Gue mikir jutaan kali, “GUE SIAPA,??? GUE GORILA?? GUE GANGGU??”.


Okelah, Gue bakal siapin amunisi, “EMANG LOE PIKIR LOE SIAPA??? MESTI YA GUE NGINGET LOE TERUS??? EMANG GUE HARUS NGERASA GUE KEHILANGAN LOE GITU???. SORRY LAH YAW…. :P”. Tapi emang sih,jujur Gue rindu sama Loe Dita.

Selasa, 22 April 2014

Puisi Galau


Mengenang Kepergianmu



Malam seperti sekarang adalah waktuku

Waktuku tuk terdiam dalam syahdu

Aku lelaki yang sedang putus cinta

Ingin sedikit bergurau tentang cinta



Cinta, maaf aku bercerita

Aku tak mampu diam, bungkam dalam derita

Aku hanya bergurau dalam rangkaian kata

Mengenang cerita lampau kisah kita



Tergurat sedikit senyum di bibir ini

Mengingat betapa manja kamu padaku

Bergetar sedikit tubuh ini

Mengenang erat dan hangat pelukmu di tubuhku



Ingatkah Cinta?

Saat kita arungi jalanan berdua

Ingatkah Cinta?

Saat kita lewati hari dan tak peduli orang sekitar

Segalanya indah
Namun berakhir sudah



Aku ingat dulu

Dulu saat pertama bertemu

Kita malu-malu

Siapa sangka malu cepat berlalu

Tawa canda senda gurau
Dengan cepatnya menghias kehidupan kita
Kau berbagi banyak cerita
Dan aku menjadi penulis cerita



Hari-hari berlalu

Semakin hari semakin dekat

Semakin sering menjalani hari berdua

Tak peduli orang berprasangka

Kita berlalu dengan cerita


Sampai saatnya,Aku jatuh cinta

Mencoba meraba hatimu

Mencoba membuka pintu masuk yang tertutup



Sering Kamu menolak

Sampai Aku mau menyerah

Namun kamu mendorongku untuk lebih berusaha

Seringkali juga Aku ragu

Takut tak bisa membuatmu bahagia
Tapi Kamu memotivasi hingga aku menjadi nekat



Hari-hari berlalu

Rasa di dada makin menggebu

Ku katakan semua perasaan

Ingin membuat engkau terkesan



Aku rasa aku berhasil

Aku rasa Aku mendapatkanmu

Walau dengan semua kejujuranmu

Aku masih harus berusaha mencari sertifikat kepemilikan atas dirimu



Bulanpun berganti

Semua baik-baik saja

LDR tak terlalu menyakitkan

Sampai tiba waktu

Banyak hal mulai menjengkelkan


Banyak hal semakin tak karuan

Sertifikat kepemilikan atas dirimu semakin sulit kumiliki

Kau masih cinta Dia.

Ingin Aku bertahan

Coba aku bersabar
Ternyata Aku gagal
Ku putuskan untuk pergi



Berat memang untukmu

Apa lagi untukku

Namun harus

Kamu punya hak atas cintamu

Dan Aku puya keinginan untuk kebahagiaanmu
Aku berharap Kau bahagia
Namun apa sekarang kau bahagia?
Entahlah, semoga bahagia



Malam seperti sekarang

Aku mengenang perjalanan kita

Aku merasa ada hal yang aneh

Di saat Aku akan pergi, Kamu menghentikanku

Dan saat Kau mau untuk pergi aku mencari perhatianmu
Bahkan sampai saat semua berakhir
Di kala Aku sudah sedikit tenang dan mulai ingin move on
Kau kembali datang
Dan kadang bersamanya membakar api cemburu
Kala Kau yang sudah diam dan mungkin tenang,Aku, atau setidaknya sesuatu yang berkaitan denganku mengganggu kediaman dan ketenanganmu.
Kenapa???




------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jumat, 16 Agustus 2013

Cerita Pendek "Impas"

“Impas”
Malam kian larut. Cahaya bulan makin terang. Dalam sebuah kamar yang sederhana, seorang gadis tengah bicara sendiri sambil menatapi pas poto almarhum ayahnya. Dengan raut muka sedih ia sedikit terisak. Kata-kata dari mulut kecilnya bernada rendah namun bermakna tinggi. Di setiap kata yang ia lontarkan begitu penuh dengan arti.
“Ayah, hari ini gadismu ini ingin bercerita, mencurahkan apa yang aku alami. Hari ini aku sedih yah, namun juga senang. Aku sedih, menangis terisak. Barusan aku mendapat hal yang tak kuduga. Temanku yang kini begitu dekat dengan putrimu ini mendapat kata-kata yang membuat air mata putri kecilmu menetes. Aku tak mengerti, apa kata-kataku padanya terlalu keras hingga ia begitu nampak marah. Aku merasa dia sangat ingin menyalahkanku. Aku benar-benar terisak malam ini. Namun aku senang, aku senang karena aku merasa semua impas. Aku pernah merasa menyakitinya, dan kini aku merasa tersakiti olehnya. Aku tak canggung lagi, aku bisa bebas karena semua sudah impas. Yah, seandainya kau di sini sekarang, aku mungkin kan memelukmu erat, menangis di pangkuanmu dan mendapat nasihat darimu. Aku merindukanmu Yah”
Kesedihan begitu nampak dalam ruangan ini. Sebuah meja dengan pas poto dari almarhum sang ayah menjadi tempat sandaran untuk si gadis malam itu. Cahaya rembulan masuk melalui celah jendela memberi nuansa yang melankolis. Tiba-tiba tampak sesosok bayangan tinggi tegap berjanggut di belakang sang gadis. Bayangan itu mulai membelai rambut sang gadis yang membuatnya kaget dan langsung berbalik. “Ayah…!‼ ini Ayah?? Ayah di sini???” ucap sang gadis terheran. Dengan air mata bahagia yang ia memeluk bayangan itu. “Putriku, ini ayah, ayah di sini mendengarkan apa yang kau katakan selama ini. Kini ayah yang ingin bercerita dan bertanya padamu. Nak, apa yang kau sudah katakan pada temanmu hingga ia seperti marah? Apa yang kau perbuat sampai ia nampak kesal?? tanya bayangan itu pada si gadis sambil mendudukkan si gadis di kursi kayu tempat si gadis semula duduk. Dengan memegang tangan dari bayangan ayahnya, si gadis bercerita dengan lancarnya, “ayah, aku hanya ingin yang terbaik untuknya. Aku memag sedikit marah, memberinya nasehat untuk menjadi lebih baik. Aku katakan padanya  bahwa ia bisa, aku ceritakan tentang seseorang yang sudah menyakitiku dulu dan kini sukses karena aku sering memarahinya, sukses menjadi orang yang lebih baik membanggakan orang tuanya karena aku selalu keras memberinya nasihat. Aku hanya ingin temanku seperti itu, bahkan aku ingin dia lebih baik darinya yang telah meninggalkanku. Tapi ia seperti menganggap apa yang ku katakan hanya bualan. Ia mematahkan semua kata-kataku, ia bahkan balik menasihatiku. Ia katakan bahwa apa yang ku ucap padanya sudah sangat sering ia dengar, ia ucapkan sendiri, dan ia tuliskan pada berlembar-lembar kertas. Aku benar-benar merasa tak dihargai yah, tapi tak apa, dulu aku merasa pernah menyakitinya dan kini aku merasa tersakiti olehnya‼! Sekarang semua impas‼! Aku tak…”, sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya, jari telunjuk dari bayangan sang ayah menyentuh bibir mungil sang putri.
“Sssttt…. Sudah cukup nak, sekarang ayah mau kau mempertimbangkan kata-kata ayah, kau katakan kau merasa impas karena kau merasa pernah menyakiti temanmu dan kini kau merasa tersakiti olehnya, lalu apa temanmu merasa tersakiti dan menyakitimu??? Kau mengatakan impas hanya untuk dirimu sendiri, tapi bagaimana dengan temanmu?. Ia sama sekali tak tau apa-apa. Kau katakan kau membuat orang mampu untuk berdiri dan menjadi lebih baik, lebih membanggakan, apa kau yakin hal itu karenamu??? Bukan karena memang orang itu berusaha? Ia hanya menemui kebanggaannya setelah kau keras padanya. Jadi belum tentu semua karenamu. Pikirkanlah nak, seperti yang kau sering ucap pada ayahmu ini, orang bisa berubah, segalanya bisa berubah. Orang bisa saja nampak tak pernah mau berusaha, nampak jelek tapi dalam dirinya ia ingin jadi yang terbaik.” Sang putri terdiam, memegang erat tangan bayangan ayahnya, sedikit demi sedikit bangkit lalu memeluk bayangan itu. Tapi yah, aku tak sedikitpun ingin menyakitinya, aku hanya ingin temanku menjadi baik. Aku hanya…” kembali sang ayah menghentikan kata-kata sang putri.
“Nak kini ayah akan bercerita padamu, kini waktunya ayah bicara setelah sekian lama ayah mendengarkan. Di sebuah kota ada seorang remaja yang orang tuanya kaya raya. Hidupnya berkecukupan, ayahnya punya posisi kuat di kotanya. Namun sayang ia selalu murung, merasa selalu bodoh, merasa tak mampu. Ia selalu menyalahkan orang tuanya yang memanjakannya dari kecil hingga sekarang menjadi orang tak punya kemampuan. Sampai pada suatu ketika hadir seorang wanita yang menghiasi hidupnya. Memberinya motivasi, semangat dan membuatnya bangkit. Ia mulai belajar, mulai keluar, dan bergelut dengan apa yang membuat ayahnya begitu penting di kotanya. Dengan segala dukungan dari orang-orang sekitarnya sang remaja akhirnya menjadi pribadi baru yang menggantikan posisi ayahnya. Ia menikah dengan dengan wanita yang datang mendampinginya dan memberinya motivasi untuk maju. Dan seperti di negeri dongeng, akhirnya mereka hidup bah…” “bahagia kan yah”, cela sang putri. “aku juga ingin menjadi wanita dalam ceritamu yah, itu yang ingin aku lakuk…”. “Nak diamlahlah, ini masih waktu ayahmu berbicara”, kata sang ayah sambil melepas pelukan putrinya dan mendudukkan kembali putrinya.
“Itu tadi cerita pertama ayah untukmu. Sekarang ayah akan ceritakan cerita kedua. Di sebuah padang pasir luas ada seekor burung pipit kecil yang hidup dengan sayap patahnya dan telah ditinggal oleh kawanannya mencari daerah yang lebih layak. Di sana juga ada seekor elang perkasa yang mampu terbang dengan cepat tanpa kenal lelah. Suatu hari disiang yang panas dengan terik mentari yang menyengat, burung pipit berjalan tak kenal lelah untuk sampai di daerah seberang yang lebih baik yang mampu memberi kehidupan yang lebih baik. Lalu Sang Elang menghampirinya, “Hai Pipit, kau begitu kuat, hebat tak kenal lelah, kenapa kau tak berusa terbang untuk lebih cepat sampai ke daerah itu tanpa harus kakimu melepuh karena panasnya pasir di sini”. “Terimaksih atas saranmu Elang, seandainya aku mampu terbang, aku akan terbang dan mungkin tak kan bertemu denganmu di sini, tapi kedua sayapku telah patah, aku tak mampu terbang”, jawab burung pipit. Lalu elang terbang meninggalkannya.
Setelah setengah kilometer berjalan, elang kembali dtang pada burung pipit, “Kau begitu kuat berjalan sejauh ini, kenapa Kau tak mencoba untuk terbang saja, coba kepakkan kedua sayapmu, aku yakin dengan kekuatanmu kau mampu terbang” kata elang menyemangati. Tertunduk burung pipit, “lihatlah elang, sayap kiriku setengahnya hilang, sayap kananku masih utuh namun setengahnya hanya membebaniku karena patah dan tak mampu kukendalikan, ia tak tak lagi terorganisir oleh otakku. Aku pernah ingin mematahkannya agar tak menjadi beban tapi aku takut dan masih merasa ia bagian dariku yang memberi kehangatan saat dingin menerpa”. Sang elang kembali terbang.
Tak lama berselang, Elang kembali menyapa burung Pipit, “Hai kawanku, cobalah kepakkan sayapmu, aku rasa kau bisa terbang. Kau heb…” belum selesai Elang bicara, burung pipit memotongnya. “Elang, jika Kau memang ingin membantuku kenapa kau tak bawa aku terbang bersamamu. Bawa aku ke tempat yang lebih baik, jangan kau hanya bicara‼!”. Elang hanya terdiam, menunduk tak mamu berkata-kata. Lalu dengan nada berat elang memberanikan diri mengajak pipit terbang bersamanya. “baik kawan, maafkan aku. Sekarang naiklah ke punggungku, aku kan membawamu terbang ke tempat di seberang sana”. “Terimakasih tawaranmu, tapi aku sudah berjalan sendiri sejauh ini mendengar ocehan liarmu. Jadi biarlah aku tetap berjalan, biar aku tentukan sendiri semua, aku akan sangat bangga jika aku mampu sampai ke seberang dan akan merasa terhormat mati dengan semua yang lakukan. Kalaupun aku terbang bersamamu belum tentu aku tak mendengar ocehan-ocehan darimu lagi, atau mungkin aku akan kau jatuhkan saat melihat kawananmu. Jadi terbanglah, aku tak apa di sini berjalan sendiri” jawab pipit dengan tegas dan meneruskan perjalanannya.
Elang tertunduk, merenung dan membiarkan pipit kembali berjalan sendiri. Beberapa menit berdiri di tengah padang pasir, akhirnya elang terbang kembali. Pikirkanlah cerita ayahmu, ayah sudah cukup bicara sekarang. Ayah akan kembali lagi nanti nak.”
Tiba-tiba sosok bayangan itu menghilang. Sang putri sedikit berteriak memanggil ayahnya. “ayahhh… kenapa kau pergi lagi. Aku di sini butuh ayah. Maafkan aku yah. Ayahhh… kembalilah, aku masih merindukanmu.” Sang putri tertunduk, merenung. Tak banyak kata, memikirkan cerita ayahnya. Malam kian larut. Bulan tertutupi awan. Cahaya yang masuk lewat celah jendela hilang. Semua begitu gelap. Sang putri akhirnya tertidur dalam kerinduan dan kediamannya.  

Kamis, 15 Agustus 2013

Cerita Pendek "Domba dan Singa"



 Domba dan Singa


        Di sebuah daerah dengan padang rumput yang luas hidup seekor domba jantan. Suatu ketika ia tertidur di bawah pohon yang rindang dan sangat besar. Begitu lelap ia tertidur hingga ia bermimpi. Ia bermimpi seakan ia berada di negeri dongeng yang penuh fantasi, penuh dengan sesuatu yang mustahil namun terjadi. Ia berjalan dalam sebuah kawanan. Tiba-tiba seekor singa betina menghampiri kawanan. Semua berlari, sang Domba Jantan ini dengan segala ketakutan tetap berdiri,  menghampiri si Singa dengan waspada. Lau ia berkata dengan lantang “hai Singa, kau bisa menakuti teman-temanku, tapi tidak denganku. Aku akan menjatuhkanmu sekarang. Kau hanya seekor betina, tak kan bisa menjatuhkanku apalagi memakan dagingku”. Singa heran, tak menyangka ada Domba sebodoh itu, “hai Domba, kau terlalu percaya diri, apa kau pikir kita berada di negeri fantasi Disney Land? Kau bermimpi terlalu tinggi untuk menjatuhkanku.! Hahahaha”.
       Dengan penuh ketangkasan Domba Jantan menyahut “hai Singa, lihatlah sekelilingmu, kastil tinggi, rumah sihir, langit merah, apa kau tak merasa ini fantasi?? Ini adalah mimpiku dan aku akan menang!”
Setelah semua itu terjadilah pertempuran antara keduanya. Domba Jantan dengan percaya diri berlari, menendang Si Singa. Namun Singa dengan kegesitannya menghindar, dan mencakar Domba Jantan di punggungnya. “Apa dengan itu kau ingin menjatuhkanku?” tanya Singa mengejek. “Hah, terlalu cepat, Kau hanya betina! Apa itu tadi kemampuan terbaikmu??” balas Domba Jantan. Tanpa banyak diam Domba Jantan menyerang, melompat tepat di atas Singa, lalu menjatuhkan pukulan keras di kepala Singa. Singa tersungkur, sebelum sempat bangun kembali Domba Jantan menginjak-injaknya hingga tak berdaya. “Apa ada kata terakhir wahai Singa yang cantik?” Dengan tersengal Singa berkata terbata-bata “kau.. ka.. kau menang Domba”.
        Terlarut dalam mimpi Domba begitu lelap tidur. Tiba-tiba sebuah ranting kering jatuh menimpanya. Ia terbangun. Namun betapa kaget ia melihat seekor Singa Betina berdiri tepat dihadapannya. “Hello Domba yang manis, apa kau sudah selesai bermimpi? Aku lapar dari tadi, tapi tak tega mengganggu mimpimu. Sepertinya kau bermimpi indah. Boleh kau ceritakan mimpimu sebentar sebelum aku memakanmu?? Atau kau menceritakannya nanti di dalam perutku??” sapa Singa Betina. Dengan gemetar Domba mencoba menjawab penuh ketakutan “hai,, haii.. si…. Singa.. a.. aku tadi bermimpi menjatuhkanmu, kau akan kalah dariku. Kau tak kan bisa memakanku. Munn.. mundur kauu sebelum ku bunuh kau dengan tendanganku”. “wahh… kau benar-benar bermimpi indah Domba manis, tapi ini bukan mimpi, ini bukan negeri dongeng, bukan fantasi. Hahahaha”, jawab Singa sambil mendekati Domba dengan perlahan. Semakin dekat… dekat.. dan sangat dekat. Domba makin gemetar, terpojok dan makin ketakutan, “perr.. perrgiii kau… kau hanya betina, aku bisa menghancurkanmu… menjauh kauuuuu‼!”. Semakin ketakutan membuat Singa makin berhasrat, dengan pelan menunjukkan mili demi mili taring tajamnya. “uhhh.. manis sekali, aku hanya betina,,, huhuuu… aku betina dan kau jantan tapi tetap aku Singa dan Kau Domba, apa kau mau mengingkari kodratmu??? Malang sekali. Arrgghhhhh!‼” tanpa memberi kesempatan Domba Jantan untuk menjawab, Singa Betina langsung menyergap dan menancapkan taringnya di leher Domba Jantan.



Baru belajar nulis cerita. Hehehehe :p . Di bantu ya di bantu…… ni juga saya baru belajar bikin  Blog.
Follow me